Skip to main content

That Should be me #Chapter 4 ~Kebun Teh~

Sasuke mengetuk-ngetuk pelan jari telunjuknya di atas meja. Melirik canggung kearah sakura yang duduk tepat di hadapannya. Gadis itu tampaknya sedang sibuk dengan ponsel cerdas miliknya. Membuat Sasuke menghela nafas beratnya untuk yang kesekian kalinya. Mereka tidak bicara lagi sejak 20 menit yang lalu, dan Naruto serta Hinata sama sekali tidak terlihat 'akan datang'.
"Ckk" decak Sasuke kesal. Bukan kepada Naruto, tapi kepada dirinya sendiri. Pemuda raven itu tahu bahwa kedua sejoli itu tentu saja sengaja datang s e t e r l a m b a t ini untuk memberinya waktu bersama sakura. Sahabat konyolnya yang satu itu memang bisa diandalkan. Hanya saja, Sasuke yang sudah 'mentok' untuk menemukan topik pembicaraan kepada gadis berambut pink tersebut. Di beberapa menit pertama sejak sakura datang, pembicaraan mereka hanya seputar cuaca dan tugas. Rasanya begitu aneh, karena saat itu Sasuke lah yang terus menerus bertanya. Sejak dulu, pemuda raven itu memang tak pernah baik dalam berekspresi, dan membuka topik-topik ringan. Teman-teman nya lah yang selalu memulai pembicaraan mereka. Ketika bersama sakura, Gadis Pink itu lah yang selalu berbicara tanpa henti.
Sasuke mendesah kasar, lagi lagi mengingat hubungan itu.

Sakura P.O.V

Aku menggerakkan jari jari ku cepat di layar keyboard. Menulis pesan pesan kutukan kepada Hinata yang sedari tadi belum datang juga. Sudah hampir setengah jam aku dan Sasuke menunggunya, dan ia masih belum datang juga. 'benar benar menyebalkan!' teriak ku dalam hati. Sebenarnya aku tidak keberatan untuk menunggunya selama 30 menit, satu bahkan dua jam pun tidak. Hanya saja, dia membiarkan ku menunggu selama ini bersama Sasuke. Ya ampun!
Mulut ku rasanya tidak tahan untuk berbicara, meskipun hanya untuk sekedar membahas betapa panasnya matahari hari ini, tentang penjual es krim di malam hari, atau tentang tali sepatu ku yang semakin sering terlepas. Aku tahu, bahwa sedari tadi Sasuke melirik kearah ku, dia tentunya merasa Canggung. Aku juga tahu bahwa Sasuke telah berusaha membuka pembicaraan denganku, tapi dia memang tak bisa mengekspresikan nya dengan baik. Aku ingin berbicara panjang dengan nya, sama seperti yang biasa aku lakukan padanya dulu. Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak 'berurusan' dengan nya sampai aku benar-benar merasa ’ikhlas'. Jadi ku putuskan untuk berpura-pura sibuk dengan ponsel ku.

To: Hinata
Jika kau tidak datang dalam waktu 5 menit, aku akan pulang baka.
Send!

Normal P.O.V

"Sakura.." panggil Sasuke pelan. Sakura hanya melirik sebentar kearah pemuda itu.
"Apakah menurutmu mereka akan datang?" Lanjut Sasuke bertanya. Sakura tampak mendesah kasar.
"Entahlah. ku pikir, tidak" sahut gadis pink itu cepat tanpa bisa menyembunyikan nada kekesalannya. Melihat hal itu, mau tak mau Sasuke terkekeh pelan, merasa lucu dengan ekspresi kesal yang ditunjukkan sakura. Setahunya, sakura bukan tipikal orang yang mudah mengeluh ketika diminta untuk menunggu. Gadis pink itu memiliki rasa toleransi dan sabar yang tinggi. Kejadian ini sangat langka untuk dilihat.
"Baka.." desis sakura pelan ketika menyadari bahwa Sasuke menertawakannya. Sasuke menahan senyumnya, sudah lama sejak kedatangan Ino hal semenyenangkan ini tidak pernah terjadi lagi.
"Kau sudah menghubungi Hinata?" Tanya Sasuke yang berusaha terlihat tanpa ekspresi.
"Sudah, diabaikan" singkat sakura masih dengan nada kesal. Sasuke mengangguk-nganggukkan kepalanya mengerti.

Mereka kembali terdiam untuk beberapa saat.

"Begini saja.." ujar sakura tiba-tiba. Gadis pink itu menatap cangkir vanilla latte nya yang sudah habis. "Kita saja yang tentukan tempat nya sekarang. Dan besok pagi kita bisa berangkat. Besok hari libur, jadi kita akan leluasa. Setelah itu aku akan memberitahu Hinata, sementara kau memberitahu Naruto. Aku harus pergi ke rumah bibi ku 15 menit lagi" jelas sakura. Gadis itu benar-benar sudah tidak tahan untuk menunggu lebih lama lagi. Selama beberapa saat, Sasuke terdiam. Menyadari sesuatu. Barusan, adalah ucapan terpanjang sakura yang ia dengar sejak Perpisahan mereka. Lagi-lagi, Sasuke kemudian menganggukan kepala nya -kali ini tanda setuju.
"Ide yang bagus" sahut pemuda raven itu. Otaknya berfikir tempat apa yang kita kira cocok untuk di jadikan observasi tugas kelompoknya. Tiba-tiba, dia teringat dengan salah satu villa milik kakeknya.
"Ahya, sakura" Sasuke memberi jeda ketika menyebutkan nama gadis itu.
"Kau ingat villa yang kita gunakan untuk acara barbekyu 2 tahun yang lalu?" Tanya Sasuke. Sakura tampak menimbang, kemudian mengangguk pelan.
"Disana ada kebun teh milik Kakek, kita mungkin bisa kesana" ujar Sasuke.
-----------------------------------------------------------------------
Chapter 4 nya Mengecewakan yaaak? It's okay, di chapter 5 pas romance sasusakuuuu :"v

Comments

Popular posts from this blog

The Story Of Us [ S I N O P S I S ]

"Sorry Fris, kakak bener-bener minta maaf. Perusahaan kakak lagi dalem masalah, kakak nggak mau nantinya malah berimbas sama pernikahan kita" Lagi, untuk kesekian kalinya pernikahannya harus kembali di undur. ~ Forever Yours "Tunggu gue, gue bakal Dateng kerumah lo di akhir bulan desember 4 tahun lagi. Disaat kita udah sama sama cukup umur, dan gue udah pantes buat Lo" ujar Radi yakin. Kana menoleh, menatap tepat kedua mata si biang onar itu. Tak membutuhkan waktu yang lama, gadis manis itu segera berbalik dan kembali melanjutkan perjalanannya. ~ Marry You "Kunaon atuh fik? kamu teh bisa seyakin itu. Jaman sekarang atuh, kudu ati ati. Banyak orang jahat" seru Gita.  "Ihh, enggak atuh. Dia teh bageur pisan git" sanggah syafika, yang masih teguh dengan pendiriannya. ~ Tragic Love Affair --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- ...